Seorang pria mengadukan kebenciannya pada istrinya karena kelakuannya yang buruk sembari mengatakan, “Tapi aku tak bisa menceraikannya, dan salah satu alasannya adalah aku punya utang terlalu
Ilustrasi. (Foto: alzayulia.com)
banyak padanya, sementara kesabaranku sangat lemah. Karena itu, aku sangat sering menyiksanya, dan hanya lewat beberapa kalimatku saja ia juga sudah bisa mengetahui kebencianku kepadanya.”
“Keluh kesahmu tidak berarti apa-apa,” jawabku. “Engkau harus memecahkan masalah ini dari akarnya. Engkau mesti menyadari bahwa istrimu berbuat seperti itu karena dosa-dosa yang pernah kaulakukan. Karena itu, bertobatlah kepada Allah dengan tulus dan sungguh-sungguh, sebab mengeluh dan menyakitinya tak akan membuahkan apa-apa, seperti yang dikatakan Hasan bin Hajjaj, ‘Itu adalah hukuman Allah untuk kalian, maka jangan sambut hukuman-Nya dengan pedang, tapi sambutlah ia dengan istighfar.’
“Ketahuilah, engkau sekarang sedang diuji, dan akan mendapatkan pahala jika bersabar, ‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu’ (QS. Al Baqarah [2]: 216). Berinteraksilah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bersabar menghadapi apa yang telah ditetapkan-Nya dan mintalah jalan keluar kepada-Nya.
“Bila engkau menghimpun istighfar dan tobat dari dosa, sabar dalam menghadapi ketetapan takdir serta meminta jalan keluar kepada-Nya, berarti engkau telah melakukan tiga jenis ibadah yang masing-masing akan memberikan satu pahala kepadamu. Jangan pernah membuang-buang waktumu untuk sesuatu yang tak bermanfaat, dan jangan sekali-kali melakukan muslihat karena merasa mampu menolak sesuatu yang telah ditetapkan, ‘Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri.’ (QS. Al-An’am [6]: 17).
“Kami juga telah menuturkan bahwa suatu hari seorang prajurit masuk ke rumah Abu Yazid, beberapa saat kemudian Abu Yazid datang dan melihatnya, ia tetap berdiri di pintu seraya memerintah salah seorang muridnya, ‘Masuklah ke kamar anu, buanglah tanah yang masih basah di sana, ia berasal dari sumber yang tidak jelas halal-haramnya.’ Muridnya itu membuangnya dan seketika itu juga prajurit itu meninggalkan rumahnya.
“Penyiksaan yang kaulakukan terhadap istrimu juga tidak beralasan sama sekali.”
Pria itu lantas menanggapi, “Tetapi istriku itu benar-benar melampaui batas dalam mendurhakaiku dan sangat suka memerintahku. Selain itu semua, aku benar-benar membencinya!”
Aku kembali berkata kepadanya, “Sabarlah dalam menghadapinya, karena engkau akan mendapatkan pahala. Suatu hari seseorang menanyai Abu Utsman an-Naisabur, ‘Amal apa yang paling kauharapkan pahalanya?’ Ia menjawab, ‘Saat masih muda keluargaku memaksaku menikah tapi aku menolaknya, tiba-tiba seorang wanita menemuiku dan mengatakan, ‘Abu Utsman, aku sangat mencintaimu, aku memintamu atas nama Allah untuk menikahiku.”
‘Aku memandang bapaknya yang ternyata orang miskin, ia menikahkanku dan sangat senang melakukannya. Sesudah kami berduaan di dalam kamar, ternyata ia buta sebelah, pincang dan buruk rupa, dan karena dorongan cintanya kepadaku, ia melarangku pergi keluar rumah. Aku mengabulkan permintaannya demi menjaga hatinya, aku juga tak memperlihatkan sedikit pun kebencianku kepadanya. Aku benar-benar seperti di atas bara api karena membencinya dan aku tetap dalam kondisi seperti itu selama 15 tahun hingga ia meninggal. Aku tak punya amal yang lebih aku harapkan dari usahaku menjaga hatinya!’
“Itu benar-benar amal orang besar, manfaat apa yang bisa diperoleh dari keluh kesah dan usaha memperlihatkan kebencian? Cara menghadapi masalah yang pelik seperti ini adalah seperti yang telah kujelaskan, yakni tobat, sabar, dan meminta jalan keluar, serta ingatlah dosa-dosa yang mendatangkan hukuman seperti ini.
“Jika jalan keluar diberikan, itu yang kauharapkan. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, sabar dalam menghadapi musibah adalah sebuah ibadah. Paksakan dirimu untuk memperlihatkan rasa cinta kepadanya, sekalipun di hatimu tak ada sedikit pun darinya. Hukuman tak punya kesalahan sehingga ia tak layak dicela, dan tindakan yang seyogianya kau lakukan adalah menyibukkan diri dengan Dzat yang menimpakannya.” 
Sumber: Kitab Shad Al-Khatir Nasihat Bijak Penyegar Iman, Karya: Ibnu Al-Jauzi, Penerjemah: Abdul Majid, Lc., Penerbit: Darul Uswah