سْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
"Apalah arti sebuah kata MAAF" jika hanya dibibir saja dan kembali
melakukan kesalahan yang sama...?! Satu bukti bahwa maaf itu tidaklah
didasari ketulusan dan kesungguhan. Orang mudah sekali mengatakan sebuah
kata maaf padahal realisasinya kita harus mengerti apa kata maaf yang
terkandung di dalam hati.
Fudail bin Iyad berkata : “Jiwa kesatria ialah memafkan kesalahan-kesalahan saudaranya.”
Sudah menjadi kodrat dan kekurangannya manusia selalu melakukan
kesalahan baik disengaja atau tidak, sudah menjadi kelemahan manusia
berbuat dosa dan manusia baik secara terang terangan atau tersembunyi.
Cuz, No body perfect... Dan itu kenyataannya.
Mengapa memberi Maaf itu begitu berat dan sulit.....? Terlebih pada
orang yang pernah membuat kita terluka, terdzalimi, membuat kita
menangis merasa dipermainkan,dihianati,dipermalukan dll.
:(
Sulit bukan berarti tidak bisa hanya saja sedikit yang bisa kita beri
meskipun dari dalam hati yang paling dalam masih ada luka maupun
kesalahan orang lain yang sulit kita hapus. Kata maaf sendiri bukanlah
bentuk perdamaian yang hakiki bila tidak dari hati, apa bedanya dengan
musuh dalam selimut. Seseorang yang dipaksa berkata “A” padahal yang
ingin dia katakan “B”.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba
orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah
menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan
yang besar.” (Qs. Fushshilat: 34-35)
Ibnu ‘Abbas c mengatakan:
‘Allah memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah,
bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan
jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah menjaga mereka dari (tipu
daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang
dekat’.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109)
@ Alasan mengapa orang sulit memaafkan
1001 alasan di dalam pikiran manusia untuk tidak memaafkan kesalahan
orang lain, berikut ini 7 alasan yang menyebabkan mereka sulit
memaafkan:
1.Harga diri
Kadang ketika kita melukai perasaan
orang lain mungkin kita tidak sengaja menyebutkan kata-kata yang
menginjak-injak harga diri mereka, sehingga sulit sekali kata maaf untuk
diberikan kepada kita. Setiap orang memiliki harga diri yang tidak bisa
dibeli dengan kekayaan apapun yang ada di dunia. Harga diri bersifat
individu namun erat kaitannya dengan apa yang tuhan kasih kepada kita.
Jadi pastkan jangan menyakiti seseorang sehingga membuat harga dirinya
jatuh
2.Perkataan dan sikap itu terlalu menyakitkan
Perkataan
dan sikap yang menyakitkan mungkin membuat sebagian orang sulit untuk
memaafkan. perkataan ini bisa saja berupa perkataan yang tidak
menyakitkan secara langsung dan juga mungkin saja bisa berupa perkataan
sindirian. Sikap itu bisa berupa penganiayan atau tindakan diluar
kendali manusia seperti tamparan atau pukulan yang menegenai anggota
tubuh. Kita tidak pernah tahu perkataan dan tindakan yang mungkin
menurut kita baik-baik saja dan sewajarnya namun belum tentu penilaian
orang lain.
3.Butuh waktu
Mungkin rentan waktu untuk
memaafkan tidak selamanya harus singkat seperti apa yang kita
bayangkan. Sebagian orang butuh waktu yang cukup lama untuk melupakan
kejadian yang menyakitkan di memori otaknya. Mungkin seiring berjalannya
waktu bisa mengubah kebencian menjadi perasaan kasih.
4.Untuk Kebaikan orang lain
Ada juga, mungkin seseorang tidak ingin memaafkan karena mereka mau
yang terbaik untuk dia dan orang yang tersayang. Apabila diberi maaf
mungkin kata maaf itu bisa membuat orang lain terluka atau perasaan
orang yang diberi maaf juga bisa terluka.
5.Kebaikan bersama
Jika kebaikan bersama untuk tidak bisa memberikan sebuah kata maaf
tulus, mungkin itu adalah sebuah jalan terbaik yang telah diambilnya.
Meskipun kebaikan buat dia belum tentu kebaikan untuk kita. Mungkin
mereka punya cara pandang tersendiri mengartikan kata maaf.
6.Suka mengulanginya
Orang lain enggan memberikan maaf kepada seseorang yang pernah
berkali-kali dikasih maaf namun pada akhirnya orang tersebut mengulangi
lagi kesalahannya. Hal ini membuat orang yang ingin memberi maaf tidak
percaya terhadap apa yang iya ucapkan.
7.Jaim
Keseringan
seseorang tidak sadar atas apa yang dilakukannya sehingga menyakitkan
orangpun iya tidak tahu. Jaim atau gengsi kerap terjadi apabila anda
hendak meminta maaf duluan karena anda merasa kesalahan bukan pada diri
anda.
Kita berhak untuk TIDAK Memaafkan orang tsb atas dasar 7
alasan diatas, lantas apa yng bakal kita dapat dengan tidak memaafkan
orang tsb.....? Sedangkan kita tahu Allah SWT Dzat pemberi maaf bagi
umatNya. Lah....kita ini apa.....??
Setelah seseorang melakukan
kesalahan terhadap kita, kita berhak sama ada memberinya maaf ataupun
membiarkannya terus dengan dosa-dosanya itu.
Kita boleh bersorak
ria kerana mendapat pahala hasil perbuatan jahatnya terhadap kita
manakala dia pula akan memikul dosa-dosanya sehingga hari Kiamat.
Bagaimana? Terasa lega?
Sesetengah orang memang begitu. Maaf adalah sesuatu yang amat berharga
dan tidak mudah memberinya walaupun diminta. Apalagi jika kesalahan itu
berpuncak dari satu kesalahan yang disengajakan dan amat menyakitkan
hati.
Tidak mudah hendak mengatakan “Sama-samalah kita” setelah seseorang itu meminta maaf.
Dalam hati terdetik, ‘maaf muka engkau, umpat aku lagi, tipu aku lagi,
sakitkan hati aku lagi, sekarang tanggunglah dosa-dosa engkau sampai
kiamat.’
Bagaimana, apakah anda termasuk dalam golongan ini?
Memang tiada salahnya pendirian seperti itu, sebab ia akan menjadi satu
pengajaran yang amat bagus kepada si pesalah tadi. Itu juga menandakan
ketegasan anda dan pendirian anda tidak mudah goyah.
Sifat ini memang dimiliki oleh orang-orang yang kental jiwanya dalam menempuh hidup. (Jujur,saya termasuk salah satunya)
Memang sebuah kewajaran bila seseorang menuntut haknya dan membalas
orang yang menyakitinya. Dan dibolehkan seseorang membalas kejelekan
orang lain dengan yang semisalnya. Namun alangkah mulia dan baik
akibatnya bila dia memaafkannya. Allah berfirman:
“Dan balasan
suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan
berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia
tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40)
Ayat ini menyebutkan bahwa tingkat pembalasan ada tiga:
~Pertama: Adil, yaitu membalas kejelekan dengan kejelekan serupa, tanpa
menambahi atau mengurangi. Misalnya jiwa dibalas dengan jiwa, anggota
tubuh dengan anggota tubuh yang sepadan, dan harta diganti dengan yang
sebanding.
~Kedua: Kemuliaan, yaitu memaafkan orang yang berbuat
jelek kepadanya bila dirasa ada perbaikan bagi orang yang berbuat jelek.
Ditekankan dalam pemaafan, adanya perbaikan dan membuahkan maslahat
yang besar. Bila seorang tidak pantas untuk dimaafkan dan maslahat yang
sesuai syariat menuntut untuk dihukum, maka dalam kondisi seperti ini
tidak dianjurkan untuk dimaafkan.
~Ketiga: Zalim yaitu berbuat
jahat kepada orang dan membalas orang yang berbuat jahat dengan
pembalasan yang melebihi kejahatannya. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman
hal. 760, cet. Ar-Risalah)
“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan (HR Ath-Thabrani)
Tapi tahukah anda kesalahan yang tidak diselesaikan dengan maaf di
dunia ini akan berlanjutan hingga ke Akhirat meski kita mampu membalas
perbuatan buruknya didunia ?
Di sana orang yang bersalah terpaksa
membayar dengan memberikan pahala kebaikannya untuk menebus maaf
daripada orang yang dizaliminya.
Hingga akhirnya dia muflis dan kerana itu dia dilemparkan ke Neraka.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa yang didatangi saudaranya yang hendak meminta maaf
,hendaklah memaafkannya,apakah ia berada dipihak yang benar ataukah
yang salah, apabila tidak melakukan hal tersebut (memaafkan) , niscaya
tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat) (HR Al-Hakim)
Renungkan sebuah kisah yang berlaku pada zaman Rasulullah SAW dan
buatlah pilihan sama ada bertegas TIDAK MEMAAFKAN atau sebaliknya.
Pilihan memang hak anda.
Kisahnya begini, suatu hari, tatkala melihat Rasulullah SAW tertawa sendirian Saidina Umar pun bertanya apa sebabnya.
Jawab Rasulullah SAW, “Ada dua orang umatku yang memperhitungkan
hak-haknya. Yang seorang berkata, “Ya Allah, berikanlah hak-hakku yang
dizalimi oleh orang itu”
Berfirman Allah SWT, “Berikanlah haknya yang telah engkau zalimi itu!”
Menjawab orang yang dituntut itu dengan sedih, “Ya Allah, wahai Tuhan
ku. Sesungguhnya kebaikanku telahpun habis semuanya, maka tiadalah lagi
yang dapat aku berikan kepada orang ini.”
Dijawab oleh orang yang menuntut itu, “Oleh itu engkau mesti menanggung segala dosaku sebagai gantinya.”
Tatkala ini, kelihatan Rasulullah SAW mengalirkan air matanya menahan
kesedihan lalu meneruskan sabdanya, “Kemudian Allah SWT berfirman kepada
orang yang menuntut itu, “Angkatlah kepalamu dan lihatlah Syurga.”
Kemudian rasulullah membaca “Fattaqullaaha wa ashlihuu dzaata bainikum ,
sebab Allah memperbaiki (mendamaikan) antara kaum mukminin dihari
kiamat “ (HR Abu ya’la Al Maushili)
Apabila dilihat oleh si
penuntut itu Syurga yang penuh di dalamnya kota-kota yang berlantaikan
perak dan gedung-gedung indah daripada emas bertahtakan intan permata,
yang elok-elok, dia bertanya, “Apakah semua itu untuk Nabi-nabi atau
apakah untuk orang syahid?’
Maka dijawab oleh Allah SWT, “Itu untuk sesiapa sahaja yang sanggup membayarnya!”
Maka kata si penuntut itu, “Ya Allah, siapakah yang memiliki harta yang banyak untuk membeli Syurga yang amat hebat itu.”
Dijawab oleh Allah SWT, “Engkau pun dapat membayarnya, iaitu dengan mengampuni orang yang telah menzalimimu itu.”
Maka kata si penuntut itu, “Kalau begitu aku sanggup mengampuni dosanya terhadapku..”
Firman Allah SWT, “Pimpinlah tangan orang itu bersama-sama ke dalam Syurga itu.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Maka berbuat baiklah kepada saudaramu sesama Muslim.”
“Jika hari kiamat tiba , terdengarlah suara panggilan, “Manakah
orang-orang yang suka mengampuni dosa sesama manusianya?” Datanglah
kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu .Dan menjadi hak
setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk
surga.” (HR Adh-Dhahak dari ibnu Abbas Ra)
Nabi Muhammad
Shalallahu bersabda kepada Uqbah ; “Ya Uqbah maukah engkau
kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia akhirat yang paling utama?
“Apa itu Ya Rasulullah....? .
“Yaitu menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi
orang yang menahan pemberiannya kepadamu, memaafkan orang-orang yang
pernah menganiayamu “ (HR Al-Hakim dari Uqbah bin Amir Al-Juhani )
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak
ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha
penyayang”. (QS An-Nuur :22)
“Barangsiapa yang tidak mau memberi
ampun kepada orang, maka ia tidak akan di beri ampun “ (HR Ahmad dari
Jabir bin Abdullah Ra)
Subhanallah :') (Sungguh malu rasanya diri ini........)
@ Kedudukan orang yang memberi Maaf
Memaafkan kesalahan orang acapkali dianggap sebagai sikap lemah dan
bentuk kehinaan, padahal justru sebaliknya. Bila orang membalas
kejahatan yang dilakukan seseorang kepadanya, maka sejatinya di mata
manusia tidak ada keutamaannya. Tapi di kala dia memaafkan padahal mampu
untuk membalasnya, maka dia mulia di hadapan Allah dan manusia.
~Inilah KEMULIAAN bagi orang yang memberi maaf :
1. Mendatangkan kecintaan
Allah berfirman dalam surat Fushshilat ayat 34-35:
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu)
dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan
antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat
setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan
kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada
orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Qs.Fushshilat:
34-35)
Ibnu Katsir ra menerangkan: “Bila kamu berbuat baik kepada
orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring
orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong
kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat. Ibnu
‘Abbas c mengatakan: ‘Allah memerintahkan orang beriman untuk bersabar
di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat
diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah menjaga mereka
dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi
teman yang dekat’.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109)
2. Mendapat pembelaan dari Allah SWT
Al-Imam Muslim ra meriwayatkan hadits Abu Hurairah bahwa ada seorang
laki-laki berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya kerabat.
Aku berusaha menyambungnya namun mereka memutuskan hubungan denganku.
Aku berbuat kebaikan kepada mereka namun mereka berbuat jelek. Aku
bersabar dari mereka namun mereka berbuat kebodohan terhadapku.”
Maka Rasulullah bersabda:
لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا
يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Jika benar yang kamu ucapkan maka seolah-olah kamu menebarkan abu
panas kepada mereka. Dan kamu senantiasa mendapat penolong dari Allah
atas mereka selama kamu di atas hal itu.” (HR. Muslim)
3. Memperoleh ampunan dan kecintaan dari Allah SWT.
Allah berfirman :
“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka)
maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”
(Qs.At-Taghabun: 14)
Adalah Abu Bakr dahulu biasa memberikan nafkah
kepada orang-orang yang tidak mampu, di antaranya Misthah bin Utsatsah.
Dia termasuk famili Abu Bakr dan muhajirin. Di saat tersebar berita
dusta seputar ‘Aisyah binti Abi Bakr istri Nabi, Misthah termasuk salah
seorang yang menyebarkannya. Kemudian Allah menurunkan ayat menjelaskan
kesucian ‘Aisyah dari tuduhan kekejian. Misthah pun dihukum dera dan
Allah memberi taubat kepadanya. Setelah peristiwa itu, Abu Bakr
bersumpah untuk memutuskan nafkah dan pemberian kepadanya. Maka Allah
menurunkan firman-Nya:
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai
kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak)
akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin
dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka
memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah
mengampunimu? Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”
(Qs.An-Nur: 22)
Abu Bakr mengatakan: “Betul, demi Allah. Aku
ingin agar Allah mengampuniku.” Lantas Abu Bakr kembali memberikan
nafkah kepada Misthah. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 4750 dan Tafsir Ibnu
Katsir 3/286-287)
Nabi bersabda:
“Sayangilah –makhluk– maka
kamu akan disayangi Allah, dan berilah ampunan niscaya Allah
mengampunimu.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293)
Al-Munawi
berkata: “Allah mencintai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang di
antaranya adalah (sifat) rahmah dan pemaaf. Allah juga mencintai
makhluk-Nya yang memiliki sifat tersebut.” (Faidhul Qadir 1/607)
Adapun Allah mencintai orang yang memaafkan, karena memberi maaf
termasuk berbuat baik kepada manusia. Sedangkan Allah cinta kepada orang
yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya:
“Dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Qs.Ali ‘Imran: 134)
4. Mulia di sisi Allah maupun di sisi manusia
Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan kesalahan
orang lain, disamping tinggi kedudukannya di sisi Allah SWT.
ia juga
mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan dari
orang lain atas lawannya, dan tidak sedikit musuhnya berubah menjadi
kawan.
Nabi bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ
لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Shadaqah hakikatnya tidaklah
mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah seorang hamba karena
memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati
(tawadhu’) karena Allah melainkan diangkat oleh Allah” (HR. Muslim dari
Abu Hurairah )
@ Kapan memaafkan itu terpuji?
Seseorang yang
disakiti oleh orang lain dan bersabar atasnya serta memaafkannya padahal
dia mampu membalasnya maka sikap seperti ini sangat terpuji. Nabi
bersabda (yang artinya): “Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia
mampu untuk melakukan –pembalasan– maka Allah akan memanggilnya di hari
kiamat di hadapan para makhluk sehingga memberikan pilihan kepadanya,
bidadari mana yang ia inginkan.” (Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh
Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3394)
Demikian pula
pemaafan terpuji bila kesalahan itu berkaitan dengan hak pribadi dan
tidak berkaitan dengan hak Allah SWT. ‘Aisyah berkata: “Tidaklah
Rasulullah membalas atau menghukum karena dirinya (disakiti) sedikit
pun, kecuali bila kehormatan Allah dilukai. Maka beliau menghukum dengan
sebab itu karena Allah l.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kemudian,
pemaafan dikatakan terpuji bila muncul darinya akibat yang baik, karena
ada pemaafan yang tidak menghasilkan perbaikan. Misalnya, ada seorang
yang terkenal jahat dan suka membuat kerusakan di mana dia berbuat jahat
kepada anda. Bila anda maafkan, dia akan terus berada di atas
kejahatannya. Dalam keadaan seperti ini, yang utama tidak memaafkan dan
menghukumnya sesuai kejahatannya sehingga dengan ini muncul kebaikan,
yaitu efek jera. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan:
“Melakukan
perbaikan adalah wajib, sedangkan memaafkan adalah sunnah. Bila pemaafan
mengakibatkan hilangnya perbaikan berarti mendahulukan yang sunnah atas
yang wajib. Tentunya syariat ini tidak datang membawa hal yang seperti
ini.” (lihat Makarimul Akhlaq karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 20)
@ Hukum Orang Yang Tidak Mau Memaafkan
Pertanyaan, “Aku telah berbuat salah kepada seseorang karena dia
menggunjingku, merendahkan dan hasad kepadaku. Aku lantas melabraknya
dan mengata-ngatainya dengan suara keras bahkan memukulnya. Akhirnya dia
mendoakanku dengan doa kejelekan. Kemudian aku meminta maaf kepadanya
namun dia tidak ingin bicara dan melihat diriku. Aku lantas meminta
bantuan orang-orang yang dekat dengannya untuk menyampaikan keinginanku
meminta maaf kepadanya. Tanganku terulur di waktu kapan pun namun dia
tetap menolak dan tidak ingin melihat diriku. Apa yang harus aku
lakukan? Apakah aku tidak berdosa setelah melakukan upaya-upaya di atas?
Jawaban Syeikh Abdul Muhsin al Ubaikan, “Jika anda telah mengerahkan
berbagai daya upaya untuk berdamai dengannya maka anda insya Allah
mendapat pahala sedangkan dialah yang malah berdosa”
Orang yang
selalu berusaha minta maaf posisinya lebih mulia dibandingkan yang tidak
mau memaafkan. Bahkan orang yang gengsinya terlalu tinggi tidak mau
memaafkan orang lain maka termasuk kelompok ahli neraka. Orang sabar
dan tawakkal akan lebih mulia di hadapan Allah, dan Insya Allah akan
mendapat ganti yang lebih banyak lagi baik di dunia maupun di akhirat...
Ibnu Abas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada
sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi
yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat,
ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul,
az-zanim, dan al-’aq li walidaih.
Selanjutnya Rasulullah saw.
ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah al-qalla’ itu?” Beliau menjawab,
“Orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan
batil dan palsu.
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-jayyuf
itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri
kain kafan dan sebagainya.”
Beliau ditanya lagi, “Siapakah al-qattat itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mengadu domba
Beliau ditanya, “Siapakah ad-daibub itu?” Beliau menjawab, “Germo.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah ad-dayyus itu?” Beliau menjawab,
“Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap
istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya.”
Rasulullah saw. ditanya lagi, “Siapakah shahibul arthabah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang besar.
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah shahibul qubah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang kecil.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-’utul itu?” Beliau menjawab,
“Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf
atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah az-zanim itu?” Beliau menjawab,
“Orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di
tepi jalan guna menggunjing orang lain. Adapun al-’aq, kalian sudah tahu
semua maksudnya (yakni orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya).”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya kepada para
sahabat: "Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu? " Para
sahabat menjawab "Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah
orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan." Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya umatku yang
bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa,
dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta
orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu,
pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga
pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi.
Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk
dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke
neraka." (HR Muslim)
MasyaAllah, Neraka kah hukuman bagi orang yang kukuh tidak mau dan tak memberikan Maaf bagi orang yang sudah menyakiti......
:(
Tapi mengapa manusia selalu menganggap lemah dan menjadi kelemahan seseorang jika ia selalu memberikannya MAAF.........?!
Mengapa orang lain selalu menganggap hina dan kebiasaan baginya jika
kita selalu memaklumi dan memaafkan kesalahan kesalahan yang terus
menerus terulang....? Dan menjadi kebiasaan baginya melakukan kesalahan
yang sama.....?
Mengapa orang yang berusaha menghindar dan diam selalu dianggap menjauh dari persoalan dan tak memiliki hati nurani......??
Apa yang orang lain tahu isi hati seorang anak manusia......??
Manusia hanya bisa bersu'uzon,berkata dan berbuat seenak perutnya tanpa memikirkan dampak negatifnya.
Dan untuk kalian juga kamu yang disana....
Diamku bukan berarti aku tak peduli atau tak memperhatikan. Pembiaranku
adalah pelajaran bagimu yang kerap menyakiti dan berbuat kesalahan
dengan mempermalukan aku dan menyakitiku berulang ulang. Sungguhkah
dalam keadaan ini aku mampu dan sanggup memberikanmu kata maaf seperti
yang sudah dan sering aku lakukan.......?
Untukmu dan untuk
kalian semua, demi Rabb ku,ALLAH SWT aku senantiasa berbuat baik dan
selalu berbaik sangka pada kalian pun selalu memberikan MAAF bagimu
meski mulut ini DIAM.
Cukuplah Allah saja yang tahu isi hati dan
pikiranku saat ini......aku tak butuh pujian atau sanjungan dari mahluk.
Biarlah apa yang aku lakukan sekarang menjadi urusanku dengan Rabb ku.
Bagiku sekarang, apa yang kalian tanam hasil itulah yang bakal kalian
petik.......hukum dunia dan karma berlaku bagi siapa saja! Hukum dunia
akan Allah perlihatkan sebelum Dia menghukum kita di akhirat.
Pada pandangan ku, memaafkan seseorang adalah suatu perkara yang sangat
sukar dan bukan semua orang mampu melakukannya, dengan ikhlas termasuk
saya salah satunya.
Hanya mereka yang berjiwa besar sahaja mampu
memberi maaf seikhlas hati. Saya hanya berusaha mencontoh dan
menteladani sifat dan sikap Rasullullah meski itu butuh waktu dan proses
yang lama,karena hamba hanyalah manusia biasa yang kotor dan penuh dosa
serta kesalahan.
Mari kita belajar dari sifat pemaafnya Allah
kepada para hamba –NYA yang telah membunuh para wali-NYA. Sifat pemaaf
Rasulullah pada umat yang menyakitinya. Teladan para sahabat Rasul yang
mau berlapang dada kepada saudaranya yang telah menyinggung
perasaannya.
Ucapkanlah ucapan kasih sayang padanya :
“Pada
hari ini tidak ada cercaan kepada kamu , mudah-mudahan Allah mengampuni
(kamu) ,dan DIA adalah Maha Penyayang diantara Penyayang.” ( QS Yusuf
;92)
Inilah ucapan Nabi Yusuf AS kepada saudaranya ,ketika mereka minta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu.
Bagaimanakah anda? Apakah senang untuk anda melupakan kesalahan
seseorang terhadap anda? Mampukah anda memberi kemaafan seikhlas hati?
:’)
Semoga bermanfaat, izin tag....
Salam
:)
klinikf3cinoling