Gambar Titik Bekam dan Khasiatnya

Umat Islam memiliki sebuah solusi untuk kesehatan yaitu Thibbun Nabawi. Thibbun Nabawi atau pengobatan ala Nabi itu memiliki cakupan yang luas bukan hanya minum madu, zaitun, kurma atau bekam saja. Thibbun Nabawi mencakup nilai hidup yang harus dianut oleh Muslim seperti bersedekah, sholat Tahajud, membaca AlQuran dan sebagainya.

Semua hal sunnah dan wajib jika dikerjakan bukan saja bernilai pahala tapi juga bermanfaat untuk kesehatan. Bekam merupakan jalan menuju kesehatan. Dengan melakukan bekam secara rutin sebulan sekali atau sesuai sunnah Nabi maka kebugaran dan kesehatan akan mudah kita raih dan hilanglah semua potensi penyakit yang ada dalam tubuh kita. Inilah Khasiat bekam sebenarnya.
Sebagai gambaran kami berikan beberapa gambar titik titik bekam Nabi semoga bermanfaat...
Titik Bekam Hijamah Sunnah Nabi
Titik Bekam Asam Urat
Gambar Titik Bekam Nabi dan Khasiatnya
Titik Bekam Kepala atau Ummu Mughits
Titik Bekam dan Manfaatnya
 

Klinik F3 Cinoling Mr. Sabri. MH
Kunjungi Alamat Kami:
JL. Raya. Selakopi No. 11. Lembursawah, Kec. Cicantayan, Kab. Sukabumi, 43155. Jawa Barat. Hp. 0812 9889 2003.
Praktek: Senin - kamis Jam 08.00 s/d 20.00. Sabtu - Minggu 09.00 s/d 17.00.
 

"Nasehat Ali bin Abi Talib RA."


سْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Alangkah buruknya kesengsaraan, kalau aku mengadu aku malu, kalau aku berdiam diri aku binasa....

DOSA terbesar adalah KETAKUTAN,
REKREASI terbaik adalah BEKERJA
MUSIBAH terbesar adalah KEPUTUSASAAN
KEBERANIAN terbesar adalah KESABARAN
GURU terbaik adalah PENGALAMAN
MISTERI terbesar adalah KEMATIAN
KEHORMATAN terbesar adalah KESETIAAN
KARUNIA terbesar adalah ANAK YANG SHOLEH
SUMBANGAN terbesar adalah PARTSIPASI
MODAL terbesar adalah KEMANDIRIAN

Jangan berkawan dengan orang yang tamak kerana pada zahirnya ia ingin membahagiakanmu tapi hakikatnya dia akan mencelakan. Jauhilah berteman dengan pembohong kerana ia boleh menjadikan orang yang dekat lari darimu dan sebaliknya .Janganlah berkawan dengan orang yang bakhil kerana ia akan melupakanmu di waktu kamu sangat memerlukannya dan jauhilah bersahabat dengan orang yang suka berbuat jahat kerana ia tidak malu untuk menjualmu dengan harga yang sangat murah.....!

Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya.

Hidupkanlah hati dan pikiranmu dengan menerima dan
memperhatikan nasehat.
Jadikanlah kesalehan sebagai
penolong untuk menghilangkan keinginan-keinginan
nafsumu yang tidak terkendali.

Binalah budi pekertimu
dengan pertolongan keyakinan yang tulus pada agama dan Allah.

Taklukkanlah keinginan-keinginan pribadimu, kekesatan
hatimu dan kebandelanmu dengan senantiasa mengingat kematian.

Sadarilah akan kefanaan hidup dan segala kenikmatannya. Insyafilah kenyataan dari kemalangan dan kesengsaraan yang senantiasa menimpamu serta perubahan keadaan dan waktu. Ambillah pelajaran dari sejarah kehidupan orang-orang terdahulu.

Jangan membicarakan apa yang tidak engkau ketahui.

Jangan berspekulasi dan memberi pendapat atas apa yang kau tidak berada dalam kedudukan untuk memberi
pendapat tentangnya. Berhentilah jika khawatir akan
tersesat. Adalah lebih baik berhenti disaat
kebingungan daripada maju merambah bahaya-bahaya yang tak tentu dan resiko-resiko yang tak terduga.

Berjuanglah dan berjihadlah demi mempertahankan dan
demi tegaknya kalimat Allah. Jangan takut dan khawatir
bahwa orang-orang akan mengejekmu, mengecam tindakanmu dan memfitnahmu. Janganlah gentar dan ragu membela kebenaran dan keadilan. Hadapilah dengan sabar penderitaan dan kesengsaraan yang menimpa.

Hadapilah dengan berani rintangan yang menghalangi ketika engkau berupaya mempertahankannya. Dukunglah kebenaran dan keadilan setiap kali engkau menjumpainya.

Binalah kesabaran dalam menghadapi segala kesulitan,
bencana dan kesengsaraan. Kesabaran merupakan salah satu diantara moral yang tertinggi dan akhlak yang mulia, dan merupakan suatu kebiasaan yang terbaik yang dapat dibina. Bersandarlah dirilah kepada Allah....
dan mintalah senantiasa perlindunganNya dari segala
bencana dan penderitaan. Jangan mengharap pertolongan dan perlindungan dari siapapun kecuali Allah.

Ketahuilah bahwa sombong dan bangga diri adalah
bentuk-bentuk kebodohan dan berbahaya bagi jiwa dan
pikiran. Oleh karena itu, jalanilah kehidupan yang
seimbang dan berusahalah untuk berlaku jujur dan
tulus. Apabila mendapat bimbingan dari Allah untuk
mencapai apa-apa yang diinginkan, maka janganlah
berbangga dengan perolehan itu. Tunduk dan merendahlah dihadapan Allah dan sadarlah bahwa keberhasilan itu semata-mata karena kasih dan karunia-Nya....

"YAKINLAH ADA SESUATU YANG MENANTIMU SELEPAS BANYAK KESABARAN YANG KAU JALANI YANG AKAN MEMBUATMU TERPANA HINGGA KAU LUPA BETAPA PEDIHNYA RASA SAKIT"
( Ali bin Abi Talib RA.)

Tetap semangat.....tetap istiqomah dengan tujuan dan cita cita, abaikan orang orang yang mencoba menjatuhkanmu,itu satu tanda kalian satu peringkat lebih baik dari mereka mereka yang menghujatmu.... :)

Yakinlah Allah سبحانه و تعالي selalu menyertai umatNya yang senantiasa berniat baik. InsyaAllah...

Apa Hukumnya Orang Menikah Tetapi Sudah Hamil Duluan?

Apa Hukumnya Orang Menikah Tetapi Sudah Hamil Duluan?
Konsultasi Agama Konsultasi Keluarga
• Hukum Menikahi Wanita/Pria pezina
Yang dimaksud pezina di sini adalah yang memang zina menjadi kebiasaannya (seperti pelacur/germo/laki-laki hidung belang ).
Para ulama membagi hukumnya menjadi dua bagian:

A. Jika yang menikahi adalah orang baik-baik (mukmin, shalih), maka hukumnya haram, kecuali si pezina itu tobat dahulu.

Larangan ini berdasarkan Dalil-Dalil sebagai berikut:

1. Al Quran

Al-Maidah (5) ayat 5:

“Pada masa ini Dihalalkan bagi kamu (memakan makanan) Yang lezat-lezat serta baik-baik. dan makanan (sembelihan) orang-orang Ahli Kitab itu adalah halal bagi kamu, dan makanan (sembelihan) kamu adalah halal bagi mereka (tidak salah kamu memberi makan kepada mereka). dan (dihalalkan bagi kamu mengawini) dengan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatannya – di antara perempuan-perempuan yang beriman, dan juga perempuan-perempuan yang menjaga kehormatannya dari kalangan orang-orang Ahli Kitab dahulu daripada kamu apabila kamu beri mereka maskawinnya, sedang kamu (dengan cara yang demikian), bernikah bukan berzina, dan bukan pula kamu mengambil mereka menjadi perempuan-perempuan simpanan.”

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

لا يحل للرجل أن يتزوج بزانية، ولا يحل للمرأة أن تتزوج بزان، إلا أن يحدث كل منهما توبة

“Tidak halal bagi seorang pria menikahi wanita pezina, dan tidak halal seorang wanita menikahi seorang pria pezina, kecuali jika ia bertaubat.” Setelah itu Syaikh Sayyid Sabiq menjadikan ayat di atas sebagai dalil. Tentang ayat di atas Syaikh Sayyid Sabiq juga berkata:

أي أن الله كما أحل الطيبات، وطعام الذين أوتوا الكتاب من اليهود والنصارى، أحل زواج العفيفات من المؤمنات، والعفيفات من أهل الكتاب، في حال كون الازواج أعفاء غير مسافحين ولا متخذي أخدان

“Yakni sesungguhnya Allah sebagaimana Dia menghalalkan yang baik-baik, dan makanan orang-orang yang beri Al Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, (maka) Dia menghalalkan menikahi wanita yang menjaga kehormatan dari kalangan mu’minat, dan juga wanita yang menjaga kehormatan dari kalangan Ahli kitab, dengan keadaan bahwa mereka sebagai suami istri yang sebelumnya sama-sama menjaga kehormatan, tidak berzina, dan tidak pernah sebagi gundik (simpanan).” [1]

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat, “ dan (dihalalkan bagi kamu mengawini) dengan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatannya – di antara perempuan-perempuan yang beriman,” :

أي: وأحل لكم نكاح الحرائر العفائف من النساء المؤمنات

“Yakni dihalalkan bagi kalian menikahi wanita merdeka yang menjaga kehormatan dari kalangan wanita beriman.” [2]

Imam Abu Ja’far ath Thabari berkata tentang ayat tersebut:

أحل لكم، أيها المؤمنون، المحصنات من المؤمنات – وهن الحرائر منهن- أن تنكحوهن

“Dihalalkan bagi kalian, wahai orang-orang beriman, wanita-wanita merdeka dari kalangan beriman, untuk kalian menikahi mereka ..” [3]

Jadi, yang halal bagi orang baik-baik hanyalah menikahi wanita mu’minah yang menjaga kehormatannya, bukan pezina.

An Nuur (24) ayat 3:

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”

Ayat ini jelas-jelas menyebutkan bahwa yang layak menikahi pezina adalah pezina juga, tidak sepatutnya orang beriman menikahi orang pezina atau musyrik. Mereka pezina dan musyrik hanya layak dinikahi dengan pezina dan musyrik juga.
Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah tentang ayat ini:




ومعنى ينكح: يعقد.

وحرم ذلك، أي وحرم على المؤمنين أن يتزوجوا من هو متصف بالزنا أو بالشرك، فانه لا يفعل ذلك إلا زان أو مشرك.

“Makna dari ‘mengawini’ adalah mengadakan akad. Yang demikian itu diharamkan, yaitu diharamkan atas orang-orang beriman menikahi orang-orang yang disifati sebagai pezina atau musyrik, karena tidak ada yang menikahi mereka kecuali pezina dan musyrik juga.”[4]

2. As Sunnah

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ
أَنَّ مَرْثَدَ بْنَ أَبِي مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ كَانَ يَحْمِلُ الْأَسَارَى بِمَكَّةَ وَكَانَ بِمَكَّةَ بَغِيٌّ يُقَالُ لَهَا عَنَاقُ وَكَانَتْ صَدِيقَتَهُ قَالَ جِئْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْكِحُ عَنَاقَ قَالَ فَسَكَتَ عَنِّي فَنَزَلَتْ
{ وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ }
فَدَعَانِي فَقَرَأَهَا عَلَيَّ وَقَالَ لَا تَنْكِحْهَا

Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Martsad bin Abi martsad al Ghanawi dahulu dia membawa keluarganya ke Mekkah, di Mekkah ada seorang pelacur bernama ‘Anaq, dia adalah teman dari Martsad. Dia (Martsad) berkata: Aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah, bolehkah aku nikah dengan ‘Anaq?”, dia berkata: Rasulullah mendiamkan saya, maka turunlah ayat “Wanita pezina tidaklah menikah kecuali dengan laki-laki pezina atau musyrik.”

Lalu Rasulullah memanggil saya dan membacakan kepada saya, lalu bersabda: “Jangan kau menikahinya!” [5]

Hadits ini tegas melarang pria baik-baik menikahi wanita pezina (pelacur). Dalam Aunul Ma’bud disebutkan:

فِيهِ دَلِيل عَلَى أَنَّهُ لَا يَحِلّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَتَزَوَّج بِمَنْ ظَهَرَ مِنْهَا الزِّنَا

“Di dalamnya terdapat dalil, bahwa tidak halal bagi pria menikahi wanita yang terang-terangan darinya perzinahan (pelacur).” [6]

Hadits lainnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْكِحُ الزَّانِي الْمَجْلُودُ إِلَّا مِثْلَهُ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Pezina laki-laki yang didera, tidaklah menikah kecuali dengan yang semisalnya.” [7]
Dalam Fiqhus Sunnah disebutkan:

قال الشوكاني: هذا الوصف خرج مخرج الغالب باعتبار من ظهر منه الزنا.
وفيه دليل على أنه لا يحل للرجل أن يتزوج بمن ظهر منها الزنا.
وكذلك لا يحل للمرأة أن تتزوج بمن ظهر منه الزنا.

Berkata Asy Syaukani: Ini adalah sifat yang telah nampak dari kebiasaan, yaitu orang yang memang terbiasa berbuat zina. Dan di dalamnya terdapat dalil bahwa tidak halal bagi laki-laki menikahi wanita yang biasa melakukan zina, demikian pula tidak dihalalkan bagi wanita menikahi laki-laki yang terbiasa berzina. [8]

Berkata penulis Aunul Ma’bud:

قَالَ الْعَلَّامَة مُحَمَّد بْن إِسْمَاعِيل الْأَمِير فِي سُبُل السَّلَام : فِي الْحَدِيث دَلِيل عَلَى أَنَّهُ يَحْرُم عَلَى الْمَرْأَة أَنْ تُزَوَّج بِمَنْ ظَهَرَ زِنَاهُ ، وَلَعَلَّ الْوَصْف بِالْمَجْلُودِ بِنَاء عَلَى الْأَغْلَب فِي حَقّ مَنْ ظَهَرَ مِنْهُ الزِّنَا . وَكَذَلِكَ الرَّجُل يَحْرُم عَلَيْهِ أَنْ يَتَزَوَّج
بِالزَّانِيَةِ الَّتِي ظَهَرَ زِنَاؤُهَا

“Berkata Al ‘Allamah Muhammad bin Ismail Al Amir dalam Subulus Salam: “Di dalam hadits terdapat dalil bahwa haram bagi wanita menikah dengan laki-laki yang telah nampak perzinahannya, dan penyifatannya dengan mendapatkan dera, dikarenakan zina telah menjadi hal yang dominan (kebiasaan) baginya secara nyata. Demikian pula bagi laki-laki diharamkan baginya menikahi wanita yang telah nampak perzinahannya.” [9]

Dari uraian ini, maka jelaslah haramnya orang baik-baik, mukmin, shalih, menikahi orang yang terbiasa zina (pelacur).

B. Hukum Pernikahan Dua Orang yang Berzina, tetapi mereka bukan pelacur atau Bukan laki-laki hidung belang.

Ini yang paling banyak terjadi, mereka berzina karena rayuan setan, dan tidak mampu menjaga diri, akibat pergaulan bebas (baca: pacaran). Namun, mereka bukanlah pezina dalam artian orang yang menjadikan zina adalah kebiasaan seperti pelacur, germo, atau laki-laki hidung belang. Apakah mereka berdua boleh dinikahkan?

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

وقد اختلف في جواز تزوّج الرجل بامرأة قد زنى هو بها ، فقال الشافعي ، وأبو حنيفة : بجواز ذلك . وروي عن ابن عباس ، وروي عن عمر ، وابن مسعود ، وجابر : أنه لا يجوز . قال ابن مسعود : إذا زنى الرجل بالمرأة ثم نكحها بعد ذلك فهما زانيان أبداً ، وبه قال مالك

“Telah terjadi perbedaan pendapat tentang kebolehan seorang laki-laki menikah dengan wanita yang pernah berzina dengannya. Imam Asy Syafi’i dan Imam Abu Hanifah berpendapat: boleh. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, dan Jabir mereka berpendapat: tidak boleh. Berkata Ibnu Mas’ud: Jika laki-laki berzina dengan wanita, lalu dia menikahinya setelah itu, maka mereka berdua adalah pezina selamanya!, ini juga pendapat Imam Malik.” [10]

Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, dan Imam Ibnu Hazm, juga menguatkan pendapat yang mengharamkan.

Sebenarnya golongan yang mengharamkan, pada akhirnya membolehkan juga, dengan syarat pelakunya sudah bertaubat.

Imam Ahmad membolehkan dengan syarat dia bertaubat, dan masa iddahnya selesai. Abu Hanifah dan Asy Syafi’i berpendapat boleh mengawininya tanpa menunggu masa iddah. Bahkan Imam Asy Syafi’i membolehkan mengawini wanita zina sekalipun sedang hamil, sebab hamil semacam itu (karena pelakunya adalah laki-laki yang akan menikahinya, pen) bukan alasan haramnya kawin. [11]

C. Wanita yang berzina, lalu Dia menikah dan si Laki-Laki bukanlah pelakunya.
Ini berbeda dengan kasus di atas, ini yang menikahi wanita tersebut bukanlah laki-laki yang pernah berzina dengannya tetapi, laki-laki lain. Bolehkah pernikahan mereka berdua?

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Nikahnya orang zina itu haram hingga ia bertaubat, baik dengan pasangan zinanya atau dengan orang lain. Inilah yang benar tanpa diragukan lagi. Demikianlah pendapat segolongan ulama salaf dan khalaf, di antara mereka yakni Ahmad bin hambal dan lainnya.

Tetapi kebanyakan ulama salaf dan khalaf membolehkannya, yaitu pendapat Imam Yang tiga, hanya saja Imam Malik mensyaratkan rahimnya bersih (kosong/tidak hamil).
Abu Hanifah membolehkan akad sebelum istibra’ (bersih dari kehamilan) apabila ternyata dia hamil, tetapi jika dia hamil tidak boleh jima’ (hubungan badan) dulu sampai dia melahirkan.

Asy Syafi’i membolehkan akad secara mutlak akad dan hubungan badan, karena air sperma zina itu tidak terhormat, dan hukumnya tidak bisa dihubungkan nasabnya, inilah alasan Imam Asy Syafi’i.

Abu Hanifah memberikan rincian antara hamil dan tidak hamil, karena wanita hamil apabila dicampuri, akan menyebabkan terhubungnya anak yang bukan anaknya, sama sekali berbeda dengan yang tidak hamil.”

II. Nikahnya Wanita Hamil

Harus dirinci sebagai berikut:

1. Hamil karena suaminya sendiri, tetapi suaminya meninggal atau wafat, dia jadi janda. Bolehkah menikah dan dia masih hamil?

Sepakat kaum muslimin seluruhnya, wanita hamil dan dia menjanda ditinggal mati suami atau cerai, hanya baru boleh nikah setelah masa iddahnya selesai, yaitu setelah kelahiran bayinya. Tidak boleh baginya nikah ketika masih hamil, karena ‘iddahnya belum selesai.

2. Gadis Hamil karena berzina, bolehkah dia menikah?

Jika yang menikahinya adalah laki-laki yang menghamilinya, maka menurut Imam Asy Syafi’i adalah boleh. Imam Abu Hanifah juga membolehkan tetapi tidak boleh menyetubuhinya sampai ia melahirkan.

Imam Ahmad mengharamkannya. Begitu pula Imam Malik dan Imam Ibnu Tamiyah. Sedangkan, jika yang menikahinya adalah laki-laki lain, maka menurut Imam Ibnu taimiyah juga tidak boleh kecuali ia bertaubat, yang lain mengatakan boleh, selama ia bertobat plus Iddahnya selesai (yakni sampai melahirkan), inilah pendapat Imam Ahmad. Demikian. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain.

Tukang Fitnah yang Bertobat

Dikisahkan, bahwa ada seorang tukang fitnah yang jatuh cinta kepada seorang gadis tetangganya. Suatu hari, keluarga gadis itu mengutusnya ke kampung lain untuk suatu keperluan. Mengetahui hal itu si tukang fitnah pun mengikutinya, lalu melontarkan bujuk rayunya kepada wanita itu. 

Gadis itu berkata, “Jangan kau lakukan ini! Sebenarnya cintaku padamu melebihi cintamu kepadaku, akan tetapi aku takut kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.”

Laki-laki itu berkata, “Kau takut pada Allah, sementara aku tidak takut kepada-Nya?”
Akhirnya laki-laki itu pulang dengan perasaan penuh tobat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Dalam perjalanannya ia didera rasa haus yg mencekik tenggorokannya. Dalam kondisi kritis itu tiba-tiba dia bertemu dengan utusan dari Bani Israil dan ditanya,
“Mengapa kau ini?”
“Haus,” jawabnya.

Utusan itu berkata, “Ke sinilah, kita berdoa kepada Allah agar awan menaungi kita hingga sampai tujuan.”

Laki-laki tukang fitnah itu berkata, “Aku tidak mempunyai amal kebajikan.”
Utusan itu berkata, “Aku yg berdoa dan engkau tinggal mengaminkan.”

Berdoalah utusan itu dan si tukang fitnah itu mengaminkannya.
Tidak lama kemudian datang awan menaungi mereka hingga mereka tiba di kampung tujuan. Setelah sampai, si tukang fitnah memasuki rumahnya, sedangkan awan itu mengikutinya. Sebelum utusan itu pulang dia berkata, “Engkau telah mengaku tidak mempunyai amal kebajikan, padahal ketika aku berdoa dan engkau mengaminkannya, serta merta awan itu menaungi kita, kemudian aku mengikutimu agar engkau memberitahuku apa sebenarnya yg telah terjadi denganmu?”

Lalu tukang fitnah itu menceritakan kisahnya kepada utusan itu. Maka berkatalah utusan nabi itu, “Orang yg bertobat kepada Allah mendapat kedudukan yg tidak seorangpun menyamai kedudukannya.” []

Sumber: Kisah Teladan Islami

Keutamaan Membaca Ayat Kursi


Ayat kursi adalah salah satu ayat di dalam Al Qur'an, tepatnya di surah Al Baqarah ayat 255.

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah: 255)
Ada beberapa manfaat yang akan kita peroleh apabila kita istiqomah mengamalkan atau membacanya di waktu- waktu tertentu seperti penjelasan dari hadist yang shahih. Berikut beberapa waktu dan Manfaatnya Membaca Ayat Kursi dan keutamaannya.
1. Ketika pagi dan petang

Mengenai orang yang membaca ayat kursi di pagi dan petang hari, dari Ubay bin Ka’ab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَرَأَتْهَا غُدْوَةً أُجِرَتْ مِنَّا حَتَّى تُمْسِيَ ، وَإِذَا قَرَأَتْهَا حِيْنَ تُمْسِي أُجِرَتْ مِنَّا حَتَّى تُصْبِحَ

“Siapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi (oleh Allah dari berbagai gangguan) hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi, maka ia akan dilindungi hingga petang.” (HR. Al Hakim 1: 562. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits tersebut dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 655)

2. Sebelum tidur

Hal ini dapat dilihat dari pengaduan Abu Hurairah pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang mengajarkan padanya ayat kursi.
Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa kalimat tersebut?” Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai yaitu bacaan ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’. Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia adalah setan.” (HR. Bukhari no. 2311)

3. Setelah shalat lima waktu

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الجَنَّةِ اِلاَّ اَنْ يَمُوْتَ

“Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.” (HR. An-Nasai dalam Al Kubro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram). Maksudnya, tidak ada yang menghalanginya masuk surga ketika mati.
Intinya, ayat kursi punya keutamaan yang luar biasa sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.

عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ ». قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ ». قَالَ قُلْتُ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ. قَالَ فَضَرَبَ فِى صَدْرِى وَقَالَ « وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ »

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abul Mundzir, ayat apa dari kitab Allah yang ada bersamamu yang paling agung?” Aku menjawab, “Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qayyum.” Lalu beliau memukul dadaku dan berkata, “Semoga engkau mudah memperoleh imu, wahai Abul Mundzir.” (HR. Muslim no. 810)

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan, “Hadits ini adalah dalil akan bolehnya mengutamakan sebagian Al-Qur’an dari lainnya dan mengutamakannya dari selain kitab-kitab Allah. … Maknanya adalah pahala membacanya begitu besar, itulah makna hadits.”

Apa sebab ayat kursi lebih agung? Imam Nawawi menyebutkan, para ulama berkata bahwa hal itu dikarenakan di dalamnya terdapat nama dan sifat Allah yang penting yaitu sifat ilahiyah, wahdaniyah (keesaan), sifat hidup, sifat ilmu, sifat kerajaan, sifat kekuasaan, sifat kehendak. Itulah tujuh nama dan sifat dasar yang disebutkan dalam ayat kursi. (Syarh Shahih Muslim, 6: 85).

Demikianlah beberapa Manfaat Membaca Ayat Kursi. Hendaklah kita berusaha mengamalkannya. Marilah kita senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu Wata'ala agar kita selalu diberi kekuataan untuk mengamalkan ibadah sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah. Barokallohu fiikum.

Jangan Terlena Dengan Gemerlapnya Dunia.

Di saat Allah SWT sudah menghendaki terjadinya hari kiamat, Dia pun memerintahkan kepada malaikat Israfil untuk meniup terompetnya  sebanyak dua kali.  dimana tiupan pertama sebagai pertanda untuk membinasakan seluruh makhluk yang ada di muka bumi dan langit, sedangkan tiupan  yang kedua untuk membangkitkan mereka kembali.


Allah ta’ala berfirman:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri (menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)

Maka, setelah malaikat Israfil meniupkan terompetnya yang kedua kalinya, seluruh makhluk pun dibangkitkan dari kuburnya oleh Allah ta’ala, lalu mereka dikumpulkan dalam suatu padang yang amat luas yang rata dengan tanah (QS. Thaha: 107. Lihat Tafsir As-Sa’di hal. 462), dalam keadaan tidak berpakaian, tidak memakai sandal, tidak berkhitan dan tidak membawa sesuatu apapun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غرلا. قالت عائشة: يا رسول الله النساء والرجال جميعا ينظر بعضهم إلى بعض؟ قال صلى الله عليه و سلم: يا عائشة الأمر أشد من أن ينظر بعضهم إلى بعض

“Pada hari kiamat nanti para manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak memakai sandal, tidak berpakaian dan dalam keadaan belum berkhitan. Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita (berkumpul dalam satu tempat semuanya dalam keadaan tidak berbusana?!) apakah mereka tidak saling melihat satu sama lainnya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, ‘Wahai Aisyah kondisi saat itu amat mengerikan sehingga tidak terbetik sedikit pun dalam diri mereka untuk melihat satu sama lainnya!'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ya, saat itu masing-masing dari mereka memikirkan dirinya sendiri dan tidak sempat untuk memikirkan orang lain, meskipun itu adalah orang terdekat mereka. Allah ta’ala berfirman:

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya. Dari bapak dan ibunya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 34-37)

Semua manusia saat itu berada di dalam ketidakpastian, masing-masing menunggu apakah ia termasuk orang-orang yang beruntung dimasukkan ke taman-taman surga, ataukah mereka termasuk orang yang merugi dijebloskan ke dalam lembah hitam neraka.

Dalam kondisi seperti itu Allah ta’ala mendekatkan matahari sedekat-dekatnya di atas kepala para hamba-Nya, hingga panasnya sinar matahari yang luar biasa itu mengakibatkan keringat mereka bercucuran.

عن المقداد بن الأسود قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: تدني الشمس يوم القيامة من الخلق حتى تكون منهم كمقدار ميل … فيكون الناس على قدر أعمالهم في العرق؛ فمنهم من يكون إلى كعبيه, ومنهم من يكون إلى ركبتيه, ومنهم من يكون إلى حقويه, ومنهم من يلجمه العرق إلجاما

Al-Miqdad bin al-Aswad bercerita: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti matahari turun mendekati para makhluk hingga hanya berjarak satu mil… Pada saat itu kucuran keringat masing-masing manusia tergantung amalannya; di antara mereka ada yang keringatnya sampai di mata kakinya, ada pula yang keringatnya sampai lututnya, ada yang keringatnya sampai perutnya serta ada yang tenggelam dalam keringatnya sendiri!” (HR. Muslim)

Demikianlah para manusia saat itu berada di dalam kesusahan, kebingungan dan ketidakpastian yang tiada bandingannya, padahal satu hari pada saat itu bagaikan 50 ribu tahun hari-hari dunia! (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibn Utsaimin (II/23))

Allah ta’ala berfirman:

تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Allah dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij: 4)

Seandainya kita mau berpikir betapa mengerikannya hari-hari itu lantas kita merenungkan jalan hidup kebanyakan manusia di dunia yang kita lihat selama ini, niscaya kita akan sadar betul bahwa ternyata masih banyak di antara kita yang telah terlena dengan keindahan dunia yang semu ini dan
lupa bahwa setelah kehidupan dunia yang sementara ini masih ada kehidupan lain yang kekal abadi yang lamanya satu hari di sana sama dengan 50 ribu tahun di dunia!

Kita telah terlena dengan gemerlapnya dunia dan lupa untuk beribadah kepada Allah dan beramal saleh, padahal pada hakikatnya kita hanya diminta untuk beramal selama 30 tahun saja! Tidak lebih dari itu. Suatu waktu yang amat singkat!

Ya, kalaupun umur kita 60 tahun, sebenarnya kita hanya diminta untuk beramal selama 30 tahun saja. Karena umur yang 60 tahun itu akan dikurangi masa tidur kita di dunia yang jika dalam satu hari adalah 8 jam, berarti masa tidur kita adalah sepertiga dari umur kita yaitu: 20 tahun Lalu kita kurangi lagi dengan masa kita sebelum balig, karena seseorang tidak berkewajiban untuk beramal melainkan setelah ia balig, taruhlah jika kita balig pada umur 10 tahun, berarti umur kita hanya tinggal 30 tahun!

Subhanallah, bayangkan, pada hakikatnya kita diperintahkan untuk bersusah payah dalam beramal saleh di dunia hanya selama 30 tahun saja! Alangkah naifnya jika kita enggan untuk bersusah payah selama 30 tahun di dunia beramal saleh, sehingga akan berakibat kita mendapat siksaan yang amat pedih di akhirat selama puluhan ribu tahun!

Allah telah memperingatkan supaya kita tidak tertipu dengan kehidupan duniawi yang fana ini dalam firman-Nya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Wahai para manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayai kalian, dan janganlah sekali-kali (syaitan) yang pandai menipu, memperdayakan kalian dari Allah.” (QS. Faathiir: 5)

Mengapa orang yang tertipu dengan kehidupan duniawi benar-benar telah merugi? Karena kenikmatan dunia seisinya tidak lebih berharga di sisi Allah dari sebuah sayap seekor nyamuk!

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ ». رواه الترمذي في سننه (رقم 2490) وقَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ.

Sahl bin Sa’d bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya dunia sepadan dengan (harga) sayap seekor nyamuk; niscaya orang kafir tidak akan mendapatkan (kenikmatan dunia meskipun hanya seteguk air.” (HR. Tirmidzi)

Maka mari kita manfaatkan kehidupan dunia yang hanya sementara ini untuk benar-benar beribadah kepada Allah ta’ala, mulai dari mencari ilmu, shalat lima waktu berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada sesama terutama tetangga, mendidik keluarga sebaik-baiknya. Juga berusaha untuk menjauhi apa yang dilarang-Nya. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang disebutkan Allah ta’ala dalam firman-Nya:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Rabbi, keluarkanlah kami. niscaya kami akan mengerjakan amalan saleh berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan.’ Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (QS: Faathir: 37)

Namun mereka tidak akan mungkin bisa kembali lagi ke dunia. Demikian pula mereka tidak akan mati di neraka. Allah ta’ala bercerita:

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ (٧٧) لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ

“Mereka berseru, ‘Wahai Malik, biarlah Rabb-Mu membunuh kami saja.’ Dia menjawab, ‘Kalian akan tetap tinggal (di neraka ini). Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian, namun kebanyakan kalian benci terhadap kebenaran tersebut.'” (QS. Az-Zukhruf: 77-78)

Jangankan untuk menghentikan siksaan, untuk mendapatkan setetes air pun mereka tidak bisa. Allah ta’ala mengisahkan:

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, ‘Berilah kami sedikit air atau makanan yang telah diberikan Allah kepada kalian.’ Mereka (penghuni surga) menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.’ (Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari (kiamat) ini Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 50-51)

Semoga kita semua bukan termasuk golongan tersebut di atas, amin ya Rabbal ‘alamin.

Ilmu Itu Mahal

Oleh: Daud Farma

SEKARANG itu nyari duit nggak susah-susah amat. Punya kamera, punya laptop, jadi selebgram dan youtuber. Setahun kemudian, asalkan ia aktif dan rutin ngepost, bisa jadi jutawan.

Penghasilannya ngalahin gajinya pak lurah, ngalahin gaji pegawai, ngalahin gaji camat, ngalahin gaji gubernur, bisa jadi ngalahin gaji presiden!

Kalau dilihat dari sekilas, usaha jadi terkenal itu nggak susah-susah amat. Sekarang semua orang bisa gampang jadi terkenal, banyak ditonton orang lain.

Cukup punya kamera, bikin video, kemudian publikasi. Bukan terkenal, lebih tepatnya mengenalkan diri ke khalayak umum. Orang-orang pada tau, lalu sesekali penonton berkata: “wah hebat!” via kolom komentar atau bertatap muka saat bertemu: “aku banyak menonton videomu, juga photo-photomu di instagram. Aku sudah lama mengenalmu jauh sebelum kita bertemu!”

Asalkan yang bermanfaat loh ya?
Tapi ada juga yang tidak memberi manfaat, dan anehnya dia pula paling banyak penghasilannya. Heran!

Ah, popularitas tidak bertahan lama. Duit pun tidak betah mengurung diri dalam dompet, lama-lama habis juga. Jika suatu saat, nanti kedepannya, orang-orang sudah tidak minat lagi menonton, kan tiba-tiba jatuh kembali jadi antonim kaya.

Terus, masa akan datang orang-orang sudah minat sekali dengan belajar, minat membaca, minat dunia pendidikan, gigih menekuni ilmu. Tidak ada lagi yang minat tontonan maupun semacamnya. Apps sosmed berikutnya, yang baru lauching pun terabaikan, orang-orang pada bawa buku kemana-mana. Ada handphone, tapi hanya dimanfaatkan untuk sebatas menelepon dan chatingan. Ah, tapi itu hanya khayalan saja.

Kalau pun seandainya hal itu bakal terjadi, berarti yang ngepost tak bermanfaat akan cepat hilang dengan sendirinya dari publik figur. Akan segera lagi merasakan antonim kaya harta, juga miskin ilmu. Dan akhirnya ia back to study, ingin menekuni ilmu, mengejar cita-cita, dunia-akhirat. Tidak dunia saja.

Nah, kan akhirnya. Jadi, ilmu itu sangatlah mahal, mahal sekali! Tak dapat debeli, ijazahnya bisa dibeli, tapi ilmunya mesti dipelajari, dicari, ditekuni, diamalakan.

Kalau lah ilmu adalah mahal, berarti guru jugalah mahal. Guru adalah salah satu cara mendapatkan ilmu. Nah itu dia, sudah semestinya gaji guru juga mahal. Sudah saatnya guru digaji dengan sepantasnya.

Mari kita lihat, guru, mencerdaskan anak bangsa, malam harinya ia menyiapkan materi yang ingin ia ajarkan esok hari, menuliskannya dalam sebuah buku catatan, membaca ulang, kadang guru berusaha menghafalkannya terlebih dahulu agar muridnya tampak senang ketika melihat gurunya luar biasa saat mengajar, hafal materi!

Kemudian sampai di kelas guru berdiri dua jam lamanya, menjelaskan, menulis di papan tulis. Belum lagi anak-anak yang nakal, kalau dipukul nanti malah guru yang salah. Terus? Cuma lima ratus ribu sebulan? Ikhlas? Ya guru adalah orang yang ikhlas memberikan ilmunya, dan mungkin juga ikhlas mengorbankan jerih payahnya. Tapi tidak begitu juga.

Sebut saja, Bu Siti, guru bahasa bahasa indonesia, di salah satu SD Negeri. Sudah enam tahun mengajar di sekolah yang sama. Gaji awalnya di tahun pertama 500 ribu rupiah, dan setiap satu tahun gaji Bu Siti hanya nambah 500 ribu, enam tahun? Hanya tiga juta rupiah. Kenapa aku pakai kata “Hanya”? Tiga juta? Itu masih sedikit pake banget jika dibandingkan dengan pendapatan kidz zaman now, gaji Bu Siti cuma dua kali iklan selebgram. (Btw, Bu Siti adalah contoh fiksi)

Kalau anak-anak muda akan datang malah makin banyak minat sosmed, minat terkenal, minat jadi kaya ketimbang belajar. Maka tetap naikan gaji guru. Kenapa? Karena kalau misalkan kidz masa mendatang minat mengejar harta, ia akan ingin jadi guru, sebab gaji guru sudah sangat mahal, mahal sekali! Orang-orang pada tergiur ingin jadi guru. Hingga-hingga banyak sana-sini yang antre memanjang ikut mendaftar jadi guru. Sekolah tempat Bu Siti penuh dengan antrean! Sesak!

Maka seleksi penerimaan guru pun sangat ketat dan bijak. Tidak sembarang menerima guru, apalagi bila ada yang hanya mengandalkan ijazah, tak punya isi kepala! Maka yang jadi guru adalah hanya orang-orang yang mampu melewati seleksinya. Tesnya susah!
Serius nggak minat jadi guru masa akan datang? Gajinya sangat mahal loh! Nggak tertarik? Ah masa? Coba pikir-pikir dulu deh, nanti nyesel loh!

Kalau memang serius jadi guru masa akan datang, makanya belajar dari sekarang! Ingat, seleksinya susah! []

QOBILTU dulu, Baru CINTA

Dilihat dari segi bahasa, “I LOVE U” dan “QOBILTU” begitu berbeda. “I LOVE U” adalah bahasa Inggris yang memiliki arti “Aku cinta kamu”. Sedangkan “QOBILTU” adalah bahasa Arab yang berarti “Saya terima”.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, keduanya memiliki persamaan fungsi, yaitu untuk memulai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hubungan yang diawali dengan “I LOVE U” disebut pacaran, yang diawali dengan “QOBILTU” disebut pernikahan.

Tentu, konsekoensi dari dua kalimat itu berbeda. Hubungan yang dibangun di atas dasar “I LOVE U” sama sekali tidak ada tanggung jawab. Bahkan, tidak memiliki hubungan terikat. Ikatan diantara kedua belah pihak hanya “merasa” terikat saja. Tidak sampai ada ikatan nyata. Dengan demikian, boleh putus kapan saja dan di mana saja.

Maka tak heran, jika hubungan ini terkesan hanya untuk senang-senang. Mengumbar nafsu. Lalu, membikin pelakunya terjerumus pada perbuatan yang dimurkai Allah Swt.
Coba kita lihat, bukankah kita sering mendengar berita siswi SMA hamil di luar nikah? Bukankah kita sering mendengar bayi ditemukan di tong sampah? Bukankah kita sering mendengar banyak gadis yang sudah tidak perawan? Semua itu ulah kalimat “I LOVE U”. Kalimat ini begitu kramat sehingga membuat orang kalap.

Memang sangat disayangkan. Hanya dengan kalimat “I LOVE U”, seorang perempuan menjadikan dirinya tak ubahnya seorang istri. Menjadikan dirinya diperlakukan sepuas hati. Padahal, sering kali setelah selesai, hubungannya pun selesai. Tidak ada tanggung jawab sama sekali.

Pertanyaannya, kenapa perempuan mau? Padahal, barang yang bisa dicoba-coba, dipegang-pegang, kalau tidak cocok bisa diurungkan, itu murahan. Barang yang ada di pasar tak berkelas. Biasanya dijual dipinggir jalan. Yang membelipun orang rendahan. Beda halnya dengan barang mahal. Barang yang dijual dil Mall-Mall. Tidak boleh dicoba-coba, tidak boleh segelanya dibuka, kalau tidak cocok tidak jadi. Tidak boleh seperti itu. Begitu juga dengan perempuan. Perempuan yang mahal hanya mau pada orang yang meminangnya pada orang tua. Suami tercinta. Selain itu, dia tidak mau. Ada aturan agama yang melarang.

Coba bandingkan dengan kalimat “QOBILTU”. Dalam Islam, kalimat “QOBLILTU” bukan kalimat biasa. Kalimat ini sebagai ikrar pertanggung-jawaban seorang laki-laki. Dengan mengucapkan “QOBILTU”, seorang laki-laki berikrar kepada Allah untuk membahagiakan istrinya. Berikrar kepada mertua untuk selalu menjaga anaknya. Oleh karena itu, Islam memberi kewajiban-kewajiban kepada suami.

Tidak hanya itu, suami juga berkewajiban untuk memperlakukan istri dengan baik. Allah I befirman, “……….Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak,” (QS. An-Nisa’ [04]: 19).

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan untuk memperlakukan istri dengan perilaku baik. Menyapanya dengan lembut dan wajah berseri-seri. Berdasarkan ayat ini, seorang suami tidak boleh menyakiti istri, tidak boleh memukul istri, tidak boleh memarahi istri tanpa sebab. Bahkan, andai seorang suami menemukan kekurangan pada sang istri, suami harus sabar. Tidak boleh langsung membuangnya begitu saja. Mungkin, kekurangan itu malah menjadi kebaikan di kemudian hari.

Imam Maraghi mengatakan dalam tafsirnya, Tafsîr al-Marâghî, ayat di atas mengandung unsur kerja-sama. Maksudnya, sorang istri dan suami harus sama-sama memperlakukan pasangannya dengan baik. Membuat pasangannya bahagia dan sentosa.

Hal ini bisa dilakukan dengan menjauhi apa yang tidak disukai pasangannya serta melakukan kewajiban dengan hati ikhlas dan wajah mempesona. Seorang suami harus berusaha menghindari apa yang tidak disukai istri. Istri harus menjauhi apa yang tidak disukai suami. Mereka berdua juga harus melakukakan kewajiban masing-masing.

Hal sedemikian, adakah dalam hubungan “I LOVE U”? Tidak ada. Sebab, dalam hubungan ini tidak saling terkait dan terikat. Tidak ada janji untuk saling mengasihi. Tidak ada janji kepada Allah untuk saling menjaga. Tidak ada. Yang ada hanya janji palsu. Janji yang hanya untuk mencapai kepuasan nafsu. Janji yang sama sekali tidak ada usaha untuk menepati. Bahkan, kalimat ini identik dengan dosa.

Biasanya, orang yang memilih “I LOVE U” mengatakan, “I LOVE U” sebagai jalan menuju “QOBILTU”. “I LOVE U” untuk ta’aruf. Alasan semacam ini tidak bisa kita terima. Sebab, Islam juga menganjurkan kepada pemeluknya untuk mengenal calon pendamping. Namun, caranya bukan dengan pacaran. Islam memiliki cara sendiri untuk mengenal calon pendamping hidup.

Dalam Islam, ketika seseorang mantap untuk menikah maka sunah untuk melihat calonnya. Laki-laki sunah melihat wajah dan telapak tangan perempuan yang akan dinikahi. Perempuan sunah melihat selain diantara pusar dan lutut calon suami. Hal ini dilakukan, agar suami istri tidak menyesal di kemudian hari. Rasulullah r berkata kepada sahabat Mughirah yang telah melamar seorang perempuan, “Lihatlah dia. Sebab, melihat itu lebih menjamin untuk selalu membahagiakan kalian berdua!”, (HR. Imam Turmudzi).

Kalau cuma melihat, bisakah mengetahui sifat dan karakter calon? Permasalahan ini bisa dipecahkan dengan bertanya. Selain melihat calon, Islam juga memberi arahan kepada kita untuk menanyai sifat dan karakter calon. Bisa bertanya kepada sahabat calon, orang dekat calon, atau orang yang tahu tentang calon. Dan, orang yang ditanyai wajib memamaparkan apa adanya. Apapun yang dia tahu harus diuangkpakan. Yang jelek atau yang baik.

Namun sebenarnya, hal terbaik yang bisa dilakukan untuk mengetahui calon adalah dengan cara bertanya kepada Allah. Meminta petunjuk-Nya. Hal ini bisa dilakukan dengan salat Istikharah. Salat Istikhrah meruapakan cara paling tepat untuk mengetahui baik dan tidaknya calon. Sebab, Allah tidak akan pernah bohong. Allah juga pasti memberi jalan terbaik untuk hamba-Nya yang memohon.

Maka, “QOBILTU” adalah jalan terbaik untuk menjalin hubungan. Pula, jalan terbaik untuk meniti kehidupan. Hubungan “QOBILTU” penuh dengan tanggung jawab.

Seorang suami memiliki tanggung jawab pada istri. Seorang istri memiliki tanggung jawab pada suami. Keduanya juga memiliki tanggung jawab kepada Allah I. Lalu, apakah sama sekali tidak boleh mengatakan “I LOVE U”? Boleh, tapi setelah adanya “QOBILTU”. Kepada istri atau suami tercinta. []

Sumber: A Saifuddin Syadiri

Dampak Negatif Valentine’s Day bagi Remaja

Valentine merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh para remaja untuk melakukan hari kasih sayang bersama pasangannya. Namun perayaan hari valentine diyakini dapat mempengaruhi kebiasaan seks bebas dikalangan remaja. 

Hari Valentine dengan segala bentuk perayaannya selalu identik dengan hal yang jauh dari norma agama, seperti pesta, minuman keras, dan seks bebas.

Menurut ketua PP Bidang Perempuan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Irma Budiarti hari valentine yang dirayakan secara tahunan berpotensi menyebarkan penyakit akibat seks bebas, seperti AIDS.

Setiap tahun, tidak menutup kemungkinan bahwa banyak orang melakukan seks bebas dengan pasangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perayaan hari valentine perlu diperhatian khusus karena sering dijadikan sebagai ajang melakukan seks bebas.

Meskipun jika remaja tidak pintar menyimpulkan mana hal yang baik dan mana yang buruk, segala jenis adopsi budaya barat akan berdampak sangat merugikan bagi dirinya dan orang lain. Efek negatif sebenarnya tidak hanya didapat dari hari valentine saja, tapi juga dari hampir semua budaya barat.

Namun efek negatif dari valentine lebih banyak terjadi, terutama freesex. Mereka sudah bersiap menyambut tanggal 14 Februari dengan berbagai cara, di antaranya dengan memberi cokelat, bunga, atau sampai ada yang melakukan seks bebas.

Hal itu seolah-olah didukung dengan banyaknya pembagian kondom gratis oleh beberapa organisasi, menjelang hari valentine. Pembagian kondom dianggap sebagai aksi dukungan terhadap kelegalan seks bebas di kalangan para remaja. []

Sumber: Beritakapan

Mengapa MEMAAFKAN Itu Begitu SULIT

سْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
"Apalah arti sebuah kata MAAF" jika hanya dibibir saja dan kembali melakukan kesalahan yang sama...?! Satu bukti bahwa maaf itu tidaklah didasari ketulusan dan kesungguhan. Orang mudah sekali mengatakan sebuah kata maaf padahal realisasinya kita harus mengerti apa kata maaf yang terkandung di dalam hati.
Fudail bin Iyad berkata : “Jiwa kesatria ialah memafkan kesalahan-kesalahan saudaranya.”
Sudah menjadi kodrat dan kekurangannya manusia selalu melakukan kesalahan baik disengaja atau tidak, sudah menjadi kelemahan manusia berbuat dosa dan manusia baik secara terang terangan atau tersembunyi.

Cuz, No body perfect... Dan itu kenyataannya.
Mengapa memberi Maaf itu begitu berat dan sulit.....? Terlebih pada orang yang pernah membuat kita terluka, terdzalimi, membuat kita menangis merasa dipermainkan,dihianati,dipermalukan dll. :(
 
Sulit bukan berarti tidak bisa hanya saja sedikit yang bisa kita beri meskipun dari dalam hati yang paling dalam masih ada luka maupun kesalahan orang lain yang sulit kita hapus. Kata maaf sendiri bukanlah bentuk perdamaian yang hakiki bila tidak dari hati, apa bedanya dengan musuh dalam selimut. Seseorang yang dipaksa berkata “A” padahal yang ingin dia katakan “B”.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Qs. Fushshilat: 34-35)

Ibnu ‘Abbas c mengatakan: ‘Allah memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat’.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109)

@ Alasan mengapa orang sulit memaafkan

1001 alasan di dalam pikiran manusia untuk tidak memaafkan kesalahan orang lain, berikut ini 7 alasan yang menyebabkan mereka sulit memaafkan:
1.Harga diri
Kadang ketika kita melukai perasaan orang lain mungkin kita tidak sengaja menyebutkan kata-kata yang menginjak-injak harga diri mereka, sehingga sulit sekali kata maaf untuk diberikan kepada kita. Setiap orang memiliki harga diri yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan apapun yang ada di dunia. Harga diri bersifat individu namun erat kaitannya dengan apa yang tuhan kasih kepada kita. Jadi pastkan jangan menyakiti seseorang sehingga membuat harga dirinya jatuh

2.Perkataan dan sikap itu terlalu menyakitkan

Perkataan dan sikap yang menyakitkan mungkin membuat sebagian orang sulit untuk memaafkan. perkataan ini bisa saja berupa perkataan yang tidak menyakitkan secara langsung dan juga mungkin saja bisa berupa perkataan sindirian. Sikap itu bisa berupa penganiayan atau tindakan diluar kendali manusia seperti tamparan atau pukulan yang menegenai anggota tubuh. Kita tidak pernah tahu perkataan dan tindakan yang mungkin menurut kita baik-baik saja dan sewajarnya namun belum tentu penilaian orang lain.

3.Butuh waktu

Mungkin rentan waktu untuk memaafkan tidak selamanya harus singkat seperti apa yang kita bayangkan. Sebagian orang butuh waktu yang cukup lama untuk melupakan kejadian yang menyakitkan di memori otaknya. Mungkin seiring berjalannya waktu bisa mengubah kebencian menjadi perasaan kasih.

4.Untuk Kebaikan orang lain

Ada juga, mungkin seseorang tidak ingin memaafkan karena mereka mau yang terbaik untuk dia dan orang yang tersayang. Apabila diberi maaf mungkin kata maaf itu bisa membuat orang lain terluka atau perasaan orang yang diberi maaf juga bisa terluka.

5.Kebaikan bersama

Jika kebaikan bersama untuk tidak bisa memberikan sebuah kata maaf tulus, mungkin itu adalah sebuah jalan terbaik yang telah diambilnya. Meskipun kebaikan buat dia belum tentu kebaikan untuk kita. Mungkin mereka punya cara pandang tersendiri mengartikan kata maaf.

6.Suka mengulanginya

Orang lain enggan memberikan maaf kepada seseorang yang pernah berkali-kali dikasih maaf namun pada akhirnya orang tersebut mengulangi lagi kesalahannya. Hal ini membuat orang yang ingin memberi maaf tidak percaya terhadap apa yang iya ucapkan.

7.Jaim

Keseringan seseorang tidak sadar atas apa yang dilakukannya sehingga menyakitkan orangpun iya tidak tahu. Jaim atau gengsi kerap terjadi apabila anda hendak meminta maaf duluan karena anda merasa kesalahan bukan pada diri anda.

Kita berhak untuk TIDAK Memaafkan orang tsb atas dasar 7 alasan diatas, lantas apa yng bakal kita dapat dengan tidak memaafkan orang tsb.....? Sedangkan kita tahu Allah SWT Dzat pemberi maaf bagi umatNya. Lah....kita ini apa.....??

Setelah seseorang melakukan kesalahan terhadap kita, kita berhak sama ada memberinya maaf ataupun membiarkannya terus dengan dosa-dosanya itu.
Kita boleh bersorak ria kerana mendapat pahala hasil perbuatan jahatnya terhadap kita manakala dia pula akan memikul dosa-dosanya sehingga hari Kiamat.

Bagaimana? Terasa lega?
Sesetengah orang memang begitu. Maaf adalah sesuatu yang amat berharga dan tidak mudah memberinya walaupun diminta. Apalagi jika kesalahan itu berpuncak dari satu kesalahan yang disengajakan dan amat menyakitkan hati.

Tidak mudah hendak mengatakan “Sama-samalah kita” setelah seseorang itu meminta maaf.

Dalam hati terdetik, ‘maaf muka engkau, umpat aku lagi, tipu aku lagi, sakitkan hati aku lagi, sekarang tanggunglah dosa-dosa engkau sampai kiamat.’

Bagaimana, apakah anda termasuk dalam golongan ini?

Memang tiada salahnya pendirian seperti itu, sebab ia akan menjadi satu pengajaran yang amat bagus kepada si pesalah tadi. Itu juga menandakan ketegasan anda dan pendirian anda tidak mudah goyah.

Sifat ini memang dimiliki oleh orang-orang yang kental jiwanya dalam menempuh hidup. (Jujur,saya termasuk salah satunya)

Memang sebuah kewajaran bila seseorang menuntut haknya dan membalas orang yang menyakitinya. Dan dibolehkan seseorang membalas kejelekan orang lain dengan yang semisalnya. Namun alangkah mulia dan baik akibatnya bila dia memaafkannya. Allah berfirman:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40)

Ayat ini menyebutkan bahwa tingkat pembalasan ada tiga:
~Pertama: Adil, yaitu membalas kejelekan dengan kejelekan serupa, tanpa menambahi atau mengurangi. Misalnya jiwa dibalas dengan jiwa, anggota tubuh dengan anggota tubuh yang sepadan, dan harta diganti dengan yang sebanding.

~Kedua: Kemuliaan, yaitu memaafkan orang yang berbuat jelek kepadanya bila dirasa ada perbaikan bagi orang yang berbuat jelek. Ditekankan dalam pemaafan, adanya perbaikan dan membuahkan maslahat yang besar. Bila seorang tidak pantas untuk dimaafkan dan maslahat yang sesuai syariat menuntut untuk dihukum, maka dalam kondisi seperti ini tidak dianjurkan untuk dimaafkan.

~Ketiga: Zalim yaitu berbuat jahat kepada orang dan membalas orang yang berbuat jahat dengan pembalasan yang melebihi kejahatannya. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 760, cet. Ar-Risalah)

“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan (HR Ath-Thabrani)

Tapi tahukah anda kesalahan yang tidak diselesaikan dengan maaf di dunia ini akan berlanjutan hingga ke Akhirat meski kita mampu membalas perbuatan buruknya didunia ?

Di sana orang yang bersalah terpaksa membayar dengan memberikan pahala kebaikannya untuk menebus maaf daripada orang yang dizaliminya.
Hingga akhirnya dia muflis dan kerana itu dia dilemparkan ke Neraka.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa yang didatangi saudaranya yang hendak meminta maaf ,hendaklah memaafkannya,apakah ia berada dipihak yang benar ataukah yang salah, apabila tidak melakukan hal tersebut (memaafkan) , niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat) (HR Al-Hakim)

Renungkan sebuah kisah yang berlaku pada zaman Rasulullah SAW dan buatlah pilihan sama ada bertegas TIDAK MEMAAFKAN atau sebaliknya. Pilihan memang hak anda.
Kisahnya begini, suatu hari, tatkala melihat Rasulullah SAW tertawa sendirian Saidina Umar pun bertanya apa sebabnya.

Jawab Rasulullah SAW, “Ada dua orang umatku yang memperhitungkan hak-haknya. Yang seorang berkata, “Ya Allah, berikanlah hak-hakku yang dizalimi oleh orang itu”
Berfirman Allah SWT, “Berikanlah haknya yang telah engkau zalimi itu!”

Menjawab orang yang dituntut itu dengan sedih, “Ya Allah, wahai Tuhan ku. Sesungguhnya kebaikanku telahpun habis semuanya, maka tiadalah lagi yang dapat aku berikan kepada orang ini.”

Dijawab oleh orang yang menuntut itu, “Oleh itu engkau mesti menanggung segala dosaku sebagai gantinya.”

Tatkala ini, kelihatan Rasulullah SAW mengalirkan air matanya menahan kesedihan lalu meneruskan sabdanya, “Kemudian Allah SWT berfirman kepada orang yang menuntut itu, “Angkatlah kepalamu dan lihatlah Syurga.”

Kemudian rasulullah membaca “Fattaqullaaha wa ashlihuu dzaata bainikum , sebab Allah memperbaiki (mendamaikan) antara kaum mukminin dihari kiamat “ (HR Abu ya’la Al Maushili)

Apabila dilihat oleh si penuntut itu Syurga yang penuh di dalamnya kota-kota yang berlantaikan perak dan gedung-gedung indah daripada emas bertahtakan intan permata, yang elok-elok, dia bertanya, “Apakah semua itu untuk Nabi-nabi atau apakah untuk orang syahid?’

Maka dijawab oleh Allah SWT, “Itu untuk sesiapa sahaja yang sanggup membayarnya!”
Maka kata si penuntut itu, “Ya Allah, siapakah yang memiliki harta yang banyak untuk membeli Syurga yang amat hebat itu.”

Dijawab oleh Allah SWT, “Engkau pun dapat membayarnya, iaitu dengan mengampuni orang yang telah menzalimimu itu.”

Maka kata si penuntut itu, “Kalau begitu aku sanggup mengampuni dosanya terhadapku..”

Firman Allah SWT, “Pimpinlah tangan orang itu bersama-sama ke dalam Syurga itu.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Maka berbuat baiklah kepada saudaramu sesama Muslim.”

“Jika hari kiamat tiba , terdengarlah suara panggilan, “Manakah orang-orang yang suka mengampuni dosa sesama manusianya?” Datanglah kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu .Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk surga.” (HR Adh-Dhahak dari ibnu Abbas Ra)
Nabi Muhammad Shalallahu bersabda kepada Uqbah ; “Ya Uqbah maukah engkau kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia akhirat yang paling utama?
“Apa itu Ya Rasulullah....? .

“Yaitu menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya kepadamu, memaafkan orang-orang yang pernah menganiayamu “ (HR Al-Hakim dari Uqbah bin Amir Al-Juhani )

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS An-Nuur :22)

“Barangsiapa yang tidak mau memberi ampun kepada orang, maka ia tidak akan di beri ampun “ (HR Ahmad dari Jabir bin Abdullah Ra)

Subhanallah :') (Sungguh malu rasanya diri ini........)

@ Kedudukan orang yang memberi Maaf

Memaafkan kesalahan orang acapkali dianggap sebagai sikap lemah dan bentuk kehinaan, padahal justru sebaliknya. Bila orang membalas kejahatan yang dilakukan seseorang kepadanya, maka sejatinya di mata manusia tidak ada keutamaannya. Tapi di kala dia memaafkan padahal mampu untuk membalasnya, maka dia mulia di hadapan Allah dan manusia.

~Inilah KEMULIAAN bagi orang yang memberi maaf :
1. Mendatangkan kecintaan

Allah berfirman dalam surat Fushshilat ayat 34-35:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Qs.Fushshilat: 34-35)

Ibnu Katsir ra menerangkan: “Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat. Ibnu ‘Abbas c mengatakan: ‘Allah memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat’.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109)

2. Mendapat pembelaan dari Allah SWT

Al-Imam Muslim ra meriwayatkan hadits Abu Hurairah bahwa ada seorang laki-laki berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya kerabat. Aku berusaha menyambungnya namun mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat kebaikan kepada mereka namun mereka berbuat jelek. Aku bersabar dari mereka namun mereka berbuat kebodohan terhadapku.”

Maka Rasulullah bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Jika benar yang kamu ucapkan maka seolah-olah kamu menebarkan abu panas kepada mereka. Dan kamu senantiasa mendapat penolong dari Allah atas mereka selama kamu di atas hal itu.” (HR. Muslim)

3. Memperoleh ampunan dan kecintaan dari Allah SWT.

Allah berfirman :

“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Qs.At-Taghabun: 14)
Adalah Abu Bakr dahulu biasa memberikan nafkah kepada orang-orang yang tidak mampu, di antaranya Misthah bin Utsatsah. Dia termasuk famili Abu Bakr dan muhajirin. Di saat tersebar berita dusta seputar ‘Aisyah binti Abi Bakr istri Nabi, Misthah termasuk salah seorang yang menyebarkannya. Kemudian Allah menurunkan ayat menjelaskan kesucian ‘Aisyah dari tuduhan kekejian. Misthah pun dihukum dera dan Allah memberi taubat kepadanya. Setelah peristiwa itu, Abu Bakr bersumpah untuk memutuskan nafkah dan pemberian kepadanya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Qs.An-Nur: 22)

Abu Bakr mengatakan: “Betul, demi Allah. Aku ingin agar Allah mengampuniku.” Lantas Abu Bakr kembali memberikan nafkah kepada Misthah. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 4750 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/286-287)

Nabi bersabda:
“Sayangilah –makhluk– maka kamu akan disayangi Allah, dan berilah ampunan niscaya Allah mengampunimu.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293)

Al-Munawi berkata: “Allah mencintai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang di antaranya adalah (sifat) rahmah dan pemaaf. Allah juga mencintai makhluk-Nya yang memiliki sifat tersebut.” (Faidhul Qadir 1/607)

Adapun Allah mencintai orang yang memaafkan, karena memberi maaf termasuk berbuat baik kepada manusia. Sedangkan Allah cinta kepada orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya:

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Qs.Ali ‘Imran: 134)
4. Mulia di sisi Allah maupun di sisi manusia

Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan kesalahan orang lain, disamping tinggi kedudukannya di sisi Allah SWT.
ia juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan dari orang lain atas lawannya, dan tidak sedikit musuhnya berubah menjadi kawan.
Nabi bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Shadaqah hakikatnya tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah melainkan diangkat oleh Allah” (HR. Muslim dari Abu Hurairah )

@ Kapan memaafkan itu terpuji?

Seseorang yang disakiti oleh orang lain dan bersabar atasnya serta memaafkannya padahal dia mampu membalasnya maka sikap seperti ini sangat terpuji. Nabi bersabda (yang artinya): “Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melakukan –pembalasan– maka Allah akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga memberikan pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan.” (Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3394)

Demikian pula pemaafan terpuji bila kesalahan itu berkaitan dengan hak pribadi dan tidak berkaitan dengan hak Allah SWT. ‘Aisyah berkata: “Tidaklah Rasulullah membalas atau menghukum karena dirinya (disakiti) sedikit pun, kecuali bila kehormatan Allah dilukai. Maka beliau menghukum dengan sebab itu karena Allah l.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian, pemaafan dikatakan terpuji bila muncul darinya akibat yang baik, karena ada pemaafan yang tidak menghasilkan perbaikan. Misalnya, ada seorang yang terkenal jahat dan suka membuat kerusakan di mana dia berbuat jahat kepada anda. Bila anda maafkan, dia akan terus berada di atas kejahatannya. Dalam keadaan seperti ini, yang utama tidak memaafkan dan menghukumnya sesuai kejahatannya sehingga dengan ini muncul kebaikan, yaitu efek jera. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan:

“Melakukan perbaikan adalah wajib, sedangkan memaafkan adalah sunnah. Bila pemaafan mengakibatkan hilangnya perbaikan berarti mendahulukan yang sunnah atas yang wajib. Tentunya syariat ini tidak datang membawa hal yang seperti ini.” (lihat Makarimul Akhlaq karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 20)

@ Hukum Orang Yang Tidak Mau Memaafkan

Pertanyaan, “Aku telah berbuat salah kepada seseorang karena dia menggunjingku, merendahkan dan hasad kepadaku. Aku lantas melabraknya dan mengata-ngatainya dengan suara keras bahkan memukulnya. Akhirnya dia mendoakanku dengan doa kejelekan. Kemudian aku meminta maaf kepadanya namun dia tidak ingin bicara dan melihat diriku. Aku lantas meminta bantuan orang-orang yang dekat dengannya untuk menyampaikan keinginanku meminta maaf kepadanya. Tanganku terulur di waktu kapan pun namun dia tetap menolak dan tidak ingin melihat diriku. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku tidak berdosa setelah melakukan upaya-upaya di atas?
Jawaban Syeikh Abdul Muhsin al Ubaikan, “Jika anda telah mengerahkan berbagai daya upaya untuk berdamai dengannya maka anda insya Allah mendapat pahala sedangkan dialah yang malah berdosa”

Orang yang selalu berusaha minta maaf posisinya lebih mulia dibandingkan yang tidak mau memaafkan. Bahkan orang yang gengsinya terlalu tinggi tidak mau memaafkan orang lain maka termasuk kelompok ahli neraka. Orang sabar dan tawakkal akan lebih mulia di hadapan Allah, dan Insya Allah akan mendapat ganti yang lebih banyak lagi baik di dunia maupun di akhirat...

Ibnu Abas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih.

Selanjutnya Rasulullah saw. ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah al-qalla’ itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu.

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-jayyuf itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri kain kafan dan sebagainya.”
Beliau ditanya lagi, “Siapakah al-qattat itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mengadu domba

Beliau ditanya, “Siapakah ad-daibub itu?” Beliau menjawab, “Germo.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah ad-dayyus itu?” Beliau menjawab, “Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya.”

Rasulullah saw. ditanya lagi, “Siapakah shahibul arthabah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang besar.
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah shahibul qubah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang kecil.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-’utul itu?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah az-zanim itu?” Beliau menjawab, “Orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di tepi jalan guna menggunjing orang lain. Adapun al-’aq, kalian sudah tahu semua maksudnya (yakni orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya).”

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat: "Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu? " Para sahabat menjawab "Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka." (HR Muslim)

MasyaAllah, Neraka kah hukuman bagi orang yang kukuh tidak mau dan tak memberikan Maaf bagi orang yang sudah menyakiti...... :(
 
Tapi mengapa manusia selalu menganggap lemah dan menjadi kelemahan seseorang jika ia selalu memberikannya MAAF.........?!

Mengapa orang lain selalu menganggap hina dan kebiasaan baginya jika kita selalu memaklumi dan memaafkan kesalahan kesalahan yang terus menerus terulang....? Dan menjadi kebiasaan baginya melakukan kesalahan yang sama.....?

Mengapa orang yang berusaha menghindar dan diam selalu dianggap menjauh dari persoalan dan tak memiliki hati nurani......??

Apa yang orang lain tahu isi hati seorang anak manusia......??
Manusia hanya bisa bersu'uzon,berkata dan berbuat seenak perutnya tanpa memikirkan dampak negatifnya.

Dan untuk kalian juga kamu yang disana....
Diamku bukan berarti aku tak peduli atau tak memperhatikan. Pembiaranku adalah pelajaran bagimu yang kerap menyakiti dan berbuat kesalahan dengan mempermalukan aku dan menyakitiku berulang ulang. Sungguhkah dalam keadaan ini aku mampu dan sanggup memberikanmu kata maaf seperti yang sudah dan sering aku lakukan.......?

Untukmu dan untuk kalian semua, demi Rabb ku,ALLAH SWT aku senantiasa berbuat baik dan selalu berbaik sangka pada kalian pun selalu memberikan MAAF bagimu meski mulut ini DIAM.

Cukuplah Allah saja yang tahu isi hati dan pikiranku saat ini......aku tak butuh pujian atau sanjungan dari mahluk. Biarlah apa yang aku lakukan sekarang menjadi urusanku dengan Rabb ku.

Bagiku sekarang, apa yang kalian tanam hasil itulah yang bakal kalian petik.......hukum dunia dan karma berlaku bagi siapa saja! Hukum dunia akan Allah perlihatkan sebelum Dia menghukum kita di akhirat.

Pada pandangan ku, memaafkan seseorang adalah suatu perkara yang sangat sukar dan bukan semua orang mampu melakukannya, dengan ikhlas termasuk saya salah satunya.
Hanya mereka yang berjiwa besar sahaja mampu memberi maaf seikhlas hati. Saya hanya berusaha mencontoh dan menteladani sifat dan sikap Rasullullah meski itu butuh waktu dan proses yang lama,karena hamba hanyalah manusia biasa yang kotor dan penuh dosa serta kesalahan.

Mari kita belajar dari sifat pemaafnya Allah kepada para hamba –NYA yang telah membunuh para wali-NYA. Sifat pemaaf Rasulullah pada umat yang menyakitinya. Teladan para sahabat Rasul yang mau berlapang dada kepada saudaranya yang telah menyinggung perasaannya.

Ucapkanlah ucapan kasih sayang padanya :

“Pada hari ini tidak ada cercaan kepada kamu , mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) ,dan DIA adalah Maha Penyayang diantara Penyayang.” ( QS Yusuf ;92)
Inilah ucapan Nabi Yusuf AS kepada saudaranya ,ketika mereka minta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu.

Bagaimanakah anda? Apakah senang untuk anda melupakan kesalahan seseorang terhadap anda? Mampukah anda memberi kemaafan seikhlas hati? :’)
Semoga bermanfaat, izin tag....
Salam :)
klinikf3cinoling

Kategori

Kategori